Herman, Dakwah Pemberdayaan di Tengah Muslim dan Non Muslim

Ust Herman bergabung menjadi Dasamas (Da’i Sahabat Masyarakat) Al Azhar Peduli Ummat sejak tahun 2012 silam. Ust berpenampilan sederhana yang lahir di Sragen Jawa Tengah 1977 ini ditugaskan di Dusun Baran Mundu, Desa Puloharjo, kec. Eromoko, Wonogiri untuk memberikan kekuatan kepada ummat islam yang tinggal 40 % karena minimnya jumlah dai di sana. Hal ini pula yang menyebabkan banyaknya umat muslim yang murtad di desa tersebut.

Ust HermanDusun ini sangat terpencil, berada di dekat waduk dengan lingkungan yang diapit oleh perbukitan. Saat pertama kaki menginjakan kakinya di dusun ini, ia melihat banyak masyarakat muslim yang tidak peduli dengan kondisi keagamaan mereka. Masjid dibiarkan kotor tak terurus dan saat akan menunaikan shalat ashar tak ada air, Tempat wudhu berantakan dan terlihat bekas telapak kaki anjing di emperan masjid. Shalat jumat pun pernah tak jadi karena tidak ada ustadz yang datang.

Melihat kondisi tersebut, Herman merasa risih dan segera bergerak mendekati tokoh muslim untuk menggerakan masyarakat membenahi masjid. Alhamdulillah Allah memudahkan ikhtiarnya. Dengan support dari Al Azhar Peduli Ummat dan donatur, masjid mulai dibenahi dan membentuk TPA untuk anak anak muslim belajar di masjid. Selanjutnya dia pun intens melakukan pendekatan kepada ketua RW yang kebetulan non muslim agar mereka tidak mempunyai pandangan yang miring tentang kehadiran sosok Herman. Dengan kepiawaian komunikasi dan pendekatan ke semua lapisan masyarakat, Herman dapat memupus kecurigaan masyarakat kepadanya. Bahkan dia dapat membentuk Kepengurusan SAUNG ILMU yang diisi oleh muslim dan non muslim.

Ust Herman SIBerawal dari Saung Ilmu ini kemudian masyarakat bersatu padu membangun Dusun Baran Mundu menjadi Baran Mundu yang saat ini dikenal luas masyarakat hingga keluar wonogiri. Hal ini dilihat dari banyaknya kunjungan tamu yang ingin tahu bagaimana masyarakat yang majemuk dapat bersatu membangun kampungnya secara harmonis.

Untuk memberdayakan masyarakat di Eromoko, dibudayakan program Dapur Hidup Keluarga dan dibentuk Tabungan Gemah Ripah serta Rumah Rabuk di bawah SAUNG ILMU. Gerakan Dapur Hidup berfungsi untuk mengurangi kebutuhan harian rumah tangga dan menata lingkungan rumah warga. Tabungan Gemah Ripah adalah pola tabungan masyarakat dengan cara menabungkan segala hasil bumi dan asset hidup masyarakat yang hasilnya dapat diambil ketika dibutuhkan. Rumah Rabuk adalah tempat pembuatan pupuk organik masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani lokal. Bahannya pun diambil dari para peternak yang banyak di Baran Mundu.

11230232_503598293126274_4427083269856445515_n

Dengan kehadiran Herman di tengah tengah masyarakat Baran Mundu, kini lingkungan menjadi rapi, masjid makmur dan tertata rapi dan setiap anak bisa mengenyam belajar komputer dan Bimbel di SAUNG ILMU. Akses pengetahuan, akses ekonomi, akses transportasi sudah lebih baik lagi. Masyarakat pun memandang Herman sebagai penggerak dan inspirasi masyarakat di Baran Mundu baik muslim maupun non muslim. Tak heran jika beliau hendak pulang ke Sragen, belum sampai ke rumahnya sudah ditanyakan kapan kembali lagi ke Baran Mundu oleh warga.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box