Abarudin, Berhidmat untuk Ummat walau Kondisi Keluarga Berat

Abarudin, Dasamas (Da’i Sahabat Masyarakat) kelahiran tahun 1986 silam ini kecil dan tumbuh di Tanjung Agung, Muaraenim dalam keluarga yang sederhana. SD hingga SMA dia bergumul dengan masyarakat di Muaraenim dan membantu orang tuanya bertani jika libur sekolah tiba, meski ladang pertaniannya berada jauh di perbukitan. Tak jarang dia pun harus memikul hasil pertaniannya dengan naik turun bukit ber kilo meter.

Namun ternyata di kemudian hari kebiasaanya ini membuat punggungnya kuat, untuk memikul beban hidup dan membantu orang lain. Ini terbukti ketika terjadi kecelakaan Pesawat Sukhoi Rusia di Gunung Salak, Bogor pada bulan Mei 2012 lalu. Pria yang juga akrab disapa Kang Abar ini diutus dari Al-Fattah Rescue untuk bergabung dengan Tim Rescue TNI sampai berhasil menemukan reruntuhan puing pesawat di Gunung Salak.

Kang Abar 3Selepas SMA tahun 2006, dia memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai buruh Pabrik di bilangan Cikarang sebagai operator mesin cetak. Disitulah dia berkenalan dengan Anggi Nurhayati, wanita yang kemudian hari dipersunting menjadi isterinya. Itu pun dilakukan dengan hanya modal nekat karena tidak ada dana yang cukup untuk melangsungkan resepsi pernikahan.

Selanjutnya, pria yang mempunyai tiga anak ini mengenal Al Azhar Peduli Ummat atas izin Allah dari kawan karibnya yang terlebih dahulu menjadi Dasamas. Kang Abar pun mulai tertarik untuk bergabung dengan Al-Azhar Peduli Ummat dan menjadi Dasamas, pendamping masyarakat pedesaan untuk desa-desa gemilang binaan Al Azhar Peduli Ummat.

Ia kemudian ditempatkan di Desa Pelakat, Semende Darat Ulu, Muaraenim, Sumatera Selatan. Tugas pertamanya adalah mendampingi masyarakat untuk menjalankan program ‘Cahaya 1000 Desa’, yaitu program pembangunan PLTMH berbasis partisipasi masyarakat sehingga dapat menekan biaya pembangunan yang tinggi. Dari biaya rancangan biaya diperkirakan 1 milyar, PLTMH hanya menghabiskan dana kurang dari 1 milyar. Artinya ada penghematan 50% dari anggaran awal.

Berkat Kerja keras dan kesabaran membina masyarakat desa, warga di desa terpencil ini akhirnya merasakan terangnya listrik secara murah dengan hanya membayar iuran Rp. 15.000/ bulan atau menyetorkan 1 Kg kopi ke pengurus. Saat ini pula Kang Abar mendampingi pembangunan Masjid At-Taqwa dengan modal gotong royong dan memaksimalkan potensi lokal di Desa Pelakat.

Dengan pengembangan ‘Saung Ilmu’ pula, beliau dapat memberikan spirit belajar kepada anak-anak, remaja, dan orang tua di sana sekaligus mengajarkan berorganisasi masyarakat sehingga masyarakat dapat bergerak sendiri menggerakan sector pendidikan, kesehatan, keagamaan, pengembangan ekonomi dan penataan lingkungan menuju keberdayaan keluarga tanpa mengandalkan 100 % tumpuannya kepada Al Azhar Peduli Ummat.

Kang Abar 2

Konsep ‘Saung Ilmu’ pun dikembangkan oleh Abarudin di 5 desa terpencil lainnya yang menjadi ladangnya berdakwah yang berada di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Masyarakat di desa tersebut telah mengenal berorganisasi, belajar agama, belajar komputer, pertanian dengan pola menetap dan pemanfaatan lahan dengan hortikultura, sehingga mereka dapat menurunkan angka belanja rumah tangga.

Dedikasi beliau di dunia dakwah dan Community Development ini dilakukannya karena kecintaanya kepada dunia sosial yang sudah dijalankan sejak SMA. Bahkan ketika suatu saat anak dan isterinya sakit dan perlu perawatan berkelanjutan, ia tetap menjalankan kegiatannya dengan baik disela-sela kesibukan merawat isteri dan anaknya. Kang Abar siap meninggalkan keluarga dengan berbagai resikonya untuk berdakwah.
http://bit.ly/1Ig8LvI

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box