JANGAN KAU BAWA USTADZKU

“Kami mohon Pak, jangan bawa Ust. Syamsul. Ibu-ibu semua bisa pingsan karena anak-anaknya gak lagi bisa ngaji..” Seorang ibu memohon.

“Maaf Bu, Ust. Syamsul harus segera bertugas ke Desa Paren, karena sebetulnya beliau harusnya bertugas di sana, di sini akan ada yang baru…” Jelas Mas Rahmat.

“Biar Paren dengan Ustad baru itu, Ust Syamsul tetep di sini, kasihan anak-anak kami Pak, mereka sudah sangat dekat.” Ibu itu meratap dengan uraian air mata.

“Iya Pak, biarlah Ust. Syamsul di sini” pria setengah baya ikut menegaskan

“Anak Saya minta pindah dari SMP Desa sini, kalo Ust Syamsul pindah dari sini, SMP di sini kurang guru. Beliau ikut ngajar.” Pinta seorang pria.

“Sebenernya kami sangat senang dengan hadirnya Ust Syamsul, sekarang desa ini beda dengan dulu, makin banyak penduduk makin sedikit jamaah masjidnya, Ustd Syamsul sangat diperlukan”, kata seorang kakek.

Begitulah ungkapan-ungkapan warga Tanjung Hanau, Seruyan saat Kami hendak membawa Ust. Syamsul (Dasamas APU) untuk bertugas di Desa Paren, desa yang dijadwalkan sebelumnya bagi Ust Syamsul. Namun waktu yang sesaat bagi Ust Syamsul di Desa Tanjung Hanau begitu bermakna bagi masyarakat, hingga mereka tak rela melepasnya.

Share Button

2 thoughts on “JANGAN KAU BAWA USTADZKU

  1. hendra says:

    mantep….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box