RPP, Solusi Bagi Kesejahteraan Petani

Betapa bahagianya para petani yang berada di Dusun Baran & Mundu Kel. Puloharjo, Kec. Eromoko, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Kini mereka sedang menikmati indahnya Panen Raya hasil dari model pembiayaan Wakaf Produktif melalui skema Rumah Pembiayaan Petani (RPP) program Wakaf Al Azhar dan LAZ Al Azhar yang bekerja sama dalam pembiayaan pertanian dengan Koperasi Gemah Ripah dengan konsep mudharabah.

Menurut Susilo salah satu petani mengaku, model RPP merupakan jawaban atas tangisan para petani selama ini yang merasa tidak mendapat keuntungan saat masa panen tiba. “Saat masa panen biasanya stok gabah sangat melimpah, sehingga nilai jual menjadi turun”, tutur Susilo.

Bagaimanakah model RPP ini berjalan? Direktur Eksekutif LAZ Al Azhar Bapak Sigit Iko Sugondo mengatakan  melalui RPP ini pada awal masa tanam, sebagian hasil panen para petani sudah dibeli oleh pengurus RPP dengan kisaran 40% dari rata-rata hasil panen/luasan pada musim sebelumnya melalui skema tunda serah atau akad salam. Harganya pun sesuai kesepakatan para petani agar saling menguntungkan.

Jika masa panen raya tiba, petani kemudian menyerahkan 40% hasil panennya. Sisanya kemudian bisa mereka jual. Inilah kondisi yang sangat didambakan petani selama ini, bisa mendapatkan harga yang cocok untuk hasil panen mereka meskipun pada saat panen raya.

Lalu bagaimanakah mitigasi risiko jika seandainya terjadi gagal serah atau gagal panen?. Sigit Iko Sugondo melanjutkan, solusinya adalah dengan menguatkan sistem ketahanan pangan dan kelembagaan lokalnya.

“Sistem ketahanan pangan yang dimaksud adalah pada tahap awal pelaksanaan program, petani sudah dikondisikan untuk menyimpan hasil panen untuk cadangan pangannya. Dan sebagian lagi dijual untuk modal kerja petani. Hal ini bisa dilakukan ketika beriringan dengan tahapan kemandirian produksi pangan. Dengan demikian petani sudah memiliki gabah di gudangnya hingga panen berikutnya”.

“Sementara untuk sistem penguatan kelembagaan lokal dari awal sudah menerapkan dana tabarru yang dikhususkan untuk saling membantu ketika terjadi musibah. Jadi jika seandainya terjadi gagal panen petani masih memiliki cadangan gabah di gudang serta ada dana tabarru di kelompok. Yang juga diperhatikan sebetulnya mereka ini sedang jual beli dengan kelompok, sehingga akan saling menjaga dan adil karena mereka juga akan mendapat revenue (sisa hasil usaha) yang dibagikan,” jelas Sigit.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box