LAZ Al Azhar Sebagai Katalisator Antara Desa, Pemerintah, dan Lembaga Pembiayaan

Rahmatullah Sidik, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan LAZ Al Azhar, mengatakan tiap desa yang diberdayakan oleh Forum Indonesia Gemilang berbeda-beda hasilnya.

“Di setiap desa progresnya beda beda, karena tiap desa punya keunikan tersendiri,” tutur Rahmatullah.

Menurutnya dalam pemberdayaan ditargetkan selama tiga tahun dan bisa diserahkan ke kader lokal. “Dari situ kita punya target tiga tahun. Dari monitoring tiap tiga bulan, kita juga satu tahun kita evaluasi, tahun ketiga gimana, apakah desa ini kita bisa exit program. Exit program ini maksudnya pengalihan dari Dasamas kepada kader-kader lokal. Apakah kader-kader lokal ini bisa dilepas atau tidak, biasanya kita monitoring,” ungkap Rahmatullah.

Kata Rahmatullah, ada desa yang bisa exit program selama tiga tahun. Ia mencontohkan Desa Pelakat yang berhasil meraih penghargaan Desa Inovasi Terbaik se-Kab. Muara Enim dan Desa Pro Iklim Nasional tahun 2015.

Menurutnya, dengan pemberdayaan yang telah dilakukan LAZ Al Azhar bisa menarik perhatian pemerintah untuk program ke desa.

“Kita paham ya pemerintah punya tugas dan fungsinya masing masing. Kami memang, adanya kehadiran Desa Gemilang untuk menarik perhatian pemerintah untuk programnya ke desa,” ungkapnya.

Ia melanjutkan fungsi LAZ Al Azhar sebagai sebagai perantara antara orang desa dengan pemerintah, antara orang desa dengan bank.

“Jadi fungsi kami, bukan yang didepan tapi katalisator, perantara penyambung antara pemerintah dan dengan desa tersebut, tuturnya.

Untuk itu, LAZ Al Azhar melalui Forum Indonesia Gemilang melakukan dua cara ntuk menarik perhatian pemerintah.
“Pertama ada dan hadirnya kelembagaan lokal yang terorganisir perencanaan pembangunan desa secara baik dan profesional, tutur Rahmat.

Unsur kedua menurut Rahmat, adalah Dasamas. Dasamas adalah Dai Sahabat Masyarakat, sebagai pendamping di desa-desa.

“Dasamas itu tinggal bersama masyarakat berbaur dengan masyarakat. Dai itu bukan hanya di masjid, di majelis taklim, atau di TPA, tetapi hadir ke sawah, ke perkebunan, ke perikanan, dan sebagainya,” ujar Rahmat menjelaskan.

Berbeda dengan lembaga lain, LAZ Al Azhar melakukan pengevaluasian tiap tiga bulan sekali.
“Semua potensi dirajut, sehingga di Saung Ilmu itu semua komponen masyarakat akan mendiskusikan, merancang kemajuan desa selama tiga tahun. Kemudian kita turunkan dalam per tahun tahun, dan kita evaluasi tiga bulan sekali. Inilah kelebihan kita, kita buat dengan sistematis selama tiga tahun”, tutur Rahmat.

Sumber : www.chanelmuslim.com

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box