Cerita Suka Duka Da’i Sahabat Masyarakat Termuda LAZ Al Azhar di Klaten

Di Mukernas Forum Indonesia Gemilang ke-3, Auditorium Arifin Panigoro, Rabu (9/8), Chanelmuslim bertemu dengan Da’i Sahabat Masyarakat (Dasamas) LAZ Al Azhar, Amin Nasrulloh.

Amin merupakan Dasamas termuda dari 60 Dasamas yang tersebar di 11 Propinsi. Lulusan Universitas Jenderal Soedirman ini merupakan sosok yang ramah. Mungkin karena sering berinteraksi dengan masyarakat membuatnya bisa nyaman mengobrol dengan orang.

Amin mengaku mengetahui lowongan pekerjaan Dasamas saat ia menjadi relawan Mafaza Purwokerto yang menjadi mitra LAZ Al Azhar. Ia beralasan menjadi Dasamas ingin bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Kita pengen jadi manusia yang beda. Kebanyakan lulusan sarjana ingin ke kota mencari instansi atau karir yang menjanjikan. Kalau saya ingin bermanfaat untuk orang orang sekitar terutama di desa-desa binaan,” tutur pemuda yang belum menikah ini.

Saat pertama datang ke Klaten. Ia agak kaget karena masyarakatnya banyak yang minum-minuman keras, dan melakukan judi togel. Padahal di sana ada Mesjid tertua di Klaten, yaitu Mesjid Majasem.

“Kalau yang saya dampingi itu kering terhadap kesadaran ibadah. Ada mesjid tua, mesjidnya besar tetapi kesadaran ibadah sangatlah kecil. Padahal disitu daerahnya sudah menjadi penyangga kota. Mereka masih minum-minum, dan main judi togel. Namun, sekarang sudah berkurang,” tutur pria berumur 26 tahun ini.

Menurutnya daerah yang ia dampingi secara fasilitas sudah bagus, sedangkan secara ekomomi menurut Amin perlu dikembangkan kesejahteraannya.

Di Desa tersebut, kata Amin, pekerjaan masyarakat adalah kuli atau buruh batu merah. Tanah yang dikeruk oleh buruh tersebut bisa sampai dua meter sehingga menjadi rusak.

Menurut Amin, tanah yang sering dikeruk bisa mengakibatkan berkurangnya kesuburan tanah. Untuk itu sebagai Dasamas, ia berperan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Menurutnya, memberikan pemahaman kepada masyarakat tidaklah mudah karena sudah menjadi mata pencaharian mereka.

“Sedikit-sedikit kita kasih pemahaman pengetahuan dan wawasan bahaya resikonya tanah yang subur diolah menjadi bata merah. Tanah yang sudah tidak subur membutuhkan dana yang besar untuk dikonservasi,” tutur pria lulusan S1 Pertanian ini.

Amin menambahkan tanah seribu meter persegi kalau disewa 20 sampai 30 juta diolah jadi batu bata bisa mengungtungkan hingga tiga sampai tujuh kali lipat, tetapi tetapi tanah itu menjadi rusak, karena ke dalam sudah berbentuk pasir. Menurutnya butuh puluhan hingga ratusan tahun untuk mensuburkan kembali.

“Oleh karena itu, Kita masuk ke situ, benahi dan lakukan konservasi jadi lahan pertanian. Kita tambahkan pupuk organik agar tanah kembali subur,” ungkap Amin.

Sekarang sudah tiga puluh persen yang berubah kehidupannya menjadi petani. Menurut Amin, itu dikarenakan keterbatasan biaya dan dan lahan lahan yang bisa ditanam.

“Banyak lahan lahan yang rusak, banyak batuan besar kalau pasir masih bisa diolah. Kalau sudah batuan besar butuh diuruk, sedangkan diuruk perlu dana besar,” tutur Amin.

Dalam melakukan pemberdayan, Dasamas Laznas Al Azhar melakukan empat hal pemberdayaan, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan keagamaan.

“Di setiap binaan ada saung ilmu, tiap daerah berbeda beda namanya, tergantung kearifan lokal masing masing. Itu tujuannya apa, untuk tempat ngumpul masyarakat, ngeles, atau kumpul para pengurus, untuk pendidikan anak anak, ngeles, kumpul para petani, dan untuk merencanakan program. Perencana program, misalnya ingin merencanakan program apa, nah disitu. Jadi sebagai pusat interaksi masyarakat, juga pusat edukasi,” Tutur Amin.

Ia berujar, pusat binaanya sudah dipasangi wifi agar masyarakat bisa mengakses internet.

“Mereka akses internet, tetapi dalam kontrol saya. Jadi mereka tidak gaptek, mereka saya ajari buat email dan jelajahi internet dengan aman,” cerita Amin.

Di Klaten, Amin membina satu kampung yang terdiri dari dua RW, tiga RT, keseluruhan 200 Kepala Keluarga.

“Yang kita bina ibu ibu, bapak bapak, remaja, anak anak. Kalau keagaamaan TPA, ngaji. Anak anak, bimbel. Kalo ekonomi peternakan. Pada intinya bertahap tidak bisa sekaligus, pola pikirnya, pola sikap, pandangannya yang kami ubah,” tutur Amin

Amin berharap LAZ Al Azhar dapat menambah pendamping dan memperluas jaringannya tidak hanya 11 propinsi.
“Harapan saya, ini kan jadi kebutuhan di setiap masyarakat Pendamping itu penting. Jadi diperluas jaringannya tidak hanya 11 propinsi, tetapi menambah lagi di beberapa desa,” tuturnya.

Menurutnya, kunci sukses pemberdayaan dari pendampingan. Dengan pemberdayaan dan pendampingan masyarakat, kata dia, bisa berpikir ke depan.

“Kalau bisa, memang kunci suksesnya pemberdayaan itu dari pendampingan mas. Kita ngasih dana 10 juta kalo langsung ke masyarakat habis, tetapi kalau pemberdayaan dan pendampingan bisa tujuh turunan atau lebih. Itu tujuannya dari pemberdayaan agar masyarakat lebih berpikir ke masa depan,” pungkas Amin.

Sumber : www.chanelmuslim.com

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box