Tak Ada Perpustakaan Kebun Sawit pun Jadi

Sebuah dusun terpencil di Riau yang bernama Dusun Mekarsari Kel. Batu Tritip, Kec. Sei Sembilan, Kodya Dumai ini belum memiliki akses jalan yang memadai. Bahkan untuk menuju desa ini harus menggunakan perahu atau speedboat menyusuri pantai Sumatera. Dan warga Dusun Mekarsari butuh waktu hingga 3 jam untuk bepergian menuju Kota Dumai. Di desa ini belum ada listrik, sehingga untuk penerangan malam hari, warga menggunakan listrik tenaga surya dan mesin genset.
 
Bahkan untuk kebutuhan air minum, warga harus membawa dari kota Dumai karena air di Dusun Mekarsari adalah air gambut yang tidak layak minum.
Saung Ilmu Mekar sari 1
 
Sekolah formal di dusun ini hanya ada untuk tingkat SD dan SMP satu atap dan hanya memiliki 3 ruang kelas. Satu ruang kelas dibagi menjadi dua kelas. Murid SMP mulai belajar setelah siswa SD selesai.
 
Bagi murid yang tinggal di ujung kampung, mereka harus berjalan ke sekolah dengan jarak 6 km. Butuh waktu hampir 1 jam yang harus ditempuh menuju sekolah. Jika hujan, otomatis sekolah libur dan guru memaklumi ketidakhadirannya, karena jalan berubah menjadi lumpur dan sulit dilalui.
Oleh sebab itu, banyak anak yang hanya mengenyam sekolah tingkat SD dan SMP. Dan untuk melanjutkan sekolah ke SMA mereka harus keluar kampung dan tidak bisa pulang pergi.
 
Di tengah kondisi pendidikan sarana belajar yang memprihatinkan, ternyata ada secercah harapan untuk generasi penerus desa ini yang muncul dari anak-anak Dusun Mekarsari. Saat Tim Indonesia Gemilang membawa beberapa buku bacaan, mereka sangat antusias untuk meminjamnya. Mereka sangat senang sekali membaca.
 
LAZ Al Azhar bekerja sama dengan SERAI (Serasi Alam Indonesia) kemudian membentuk SAUNG ILMU sebagai pusat belajar non formal bagi anak usia sekolah. Setiap sore setelah shalat ashar lebih dari 30 anak Dusun Mekarsari berkumpul dan belajar di SAUNG ILMU yang berlokasi di rumah Ust. Ikun yang menjadi DASAMAS (Dai Sahabat Masyarakat) di Dusun Mekarsari.
Saung Ilmu Mekar sari 2 Saung Ilmu Mekar sari 4
 
Namun karena cuaca di Mekarsari cukup panas dan hanya ada ruang belajar sempit, anak-anak berlomba mengambil buku bacaannya dan kemudian berlari kearah pohon sawit sekitar SAUNG ILMU.
 
Tanpa banyak basa basi lagi mereka langsung duduk santai dan riang membuka lembar demi lembar buku cerita, buku agama, buku pengetahuan umum dan lain sebagainya untuk mendapatkan pengetahuan tambahan yang kurang dari sekolah mereka.
 
“Belajar di bawah pohon sawit lebih enak, adem dan santai Pak,” sahut mereka ketika ditanya alasan belajar di bawah pohon sawit.
Anak2 Dusun Mekarsari - Copy
Orang tua mereka pun kini sangat senang melihat anaknya belajar di dekat Saung Ilmu, karena mereka lebih merasa aman dan mudah untuk mengontrol anaknya dibawah asuhan Ust Ikun.
 
Biasanya mereka sanggup membaca dan bermain minilmal selama 1 jam untuk menghabiskan 2 buku bacaan cerita. Setelah itu mereka lanjut dengan saling bercerita kepada kawannya yang lain dan kegiatan ini berjalan hingga mendekati maghrib.
 
Begitulah cara kreatif dan cerdas anak Mekarsari mensiasiati keterbelakangan fasilitas belajar yang dihadapi. Kebiasaan membaca buku yang sudah tertanam sejak usia dini ini akan menjadikan mereka generasi cemerlang di masa mendatang, terutama untuk membangun kampung halaman mereka.
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box