LIPI Belajar Pertanian Terpadu di Desa Gemilang

Jum’at hingga Sabtu (28-29/08), tim Pusat Penelitian Kependudukan (P2K) Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan kunjungan ke 2 Desa Gemilang  di Jawa Tengah dampingan Al Azhar Peduli Ummat (APU).

FGD Lipi
Saat LIPI Belajar ke Desa Gemilang dalam Forum Discussion Group

Tim yang dipimpin Drs. Dundin Zaenuddin, MA (Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Regional LIPI) dan Endang Soesilowati (Ketua Perencana, Monitoring dan Evaluasi – PME IPSK LIPI)  juga membawa serta anggota Tim Koordinasi Laboratorium Sosial IPSK LIPI dan Sekteratris Desa Ligarmukti, Bogor sebagai pejabat desa tempat desa dampingan LIPI.

Sigit Iko Sugondo (Wakil Direktur APU sekaligus Ketua Forum Indonesia Gemilang) yang menyambut Tim LIPI didampingi Haji Basuno (Tim Penasehat Yayasan Klaten Peduli Ummat, YKPU), Zidni Abdurrahman (Manajer YKPU), Tim APU Cabang Jawa Tengah, Pengurus Saung Ilmu (kelembagaan lokal desa gemilang), kelompok-kelompok tani, dan swadaya masyarakat, pemerintah desa setempat, dan masyarakat desa.

Rumah Produksi Tahu APU
Rumah Produksi Tahu APU

Destinasi pertama, LIPI datang ke Desa Jemawan, Klaten untuk melihat dan belajar secara langsung konsep dan implementasi pertanian terpadu (integrated farming) yang pelaksanaan programnya APU bermitra dengan Yayasan Klaten Peduli Ummat (YKPU). Di Desa Jemawan, pendampingan desa gemilang ini telah memasuki tahun ketiga. Rumah pengolahan Tahu APU yang dikelola secara kelompok ini diintegrasikan dengan peternakan dan pertanian terpadu.

Limbah tahu yang dikeluarkan dimanfaatkan untuk penambah bahan pakan ternak kambing dan sapi yang memiliki kandungan gizi sangat baik bagi hewan ternak. Selain itu, limbah cair tahu juga dipakai untuk biogas yang dicampur dengan limbah/kotoran ternak sebagai pemanas pengolahan kedelai. Kotoran ternak sapi dan kambing secara mandiri diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian di desa Jemawan dan sekitarnya.

Foto Bersama LIPI dan APU di Griya Iqro
Foto Bersama LIPI dan APU di Griya Iqro

Saat ini Jemawan juga sudah mengembangkan peternakan domba komunal yang dikelola oleh kelembagaan lokal Griya Iqro secara berkelompok. Dari 30 ekor domba yang digulirkan, belum genap 1 tahun, kini kambing yang dimiliki kelompok mencapai ratusan ekor dengan pola penggemukan dan pengembangbiakan. Sebanyak 40 keluarga sebagai penerima manfaat kandang komunal ini dan seiring dengan jumlah asset yang terus meningkat, guliran program ke keluarga lainnya akan terus bertambah dan berkelanjutan.

Selain melakukan studi pertanian terpadu, Tim LIPI belajar bagaimana membentuk, mengelola dan mengoptimalkan kelembagaan lokal untuk membangun keberdayaan desa dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial yang dimiliki desa. Saat ini, Laboratorium Sosial (Labsos) yang dimiliki dan dibina oleh LIPI belum berjalan dengan baik.

Salah satu faktor utamanya adalah belum terbentuknya kelembagaan lokal yang berfungsi sebagai pusat interaksi masyarakat, pusat pengetahuan dan keterampilan masyarakat didampingi pendamping yang stay 24 jam sebagaimana yang dilakukan oleh APU di desa-desa gemilang seluruh Indonesia. Sharing yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung sederhana tapi penuh interaktif, produktif dan kekeluargaan dilakukan di Griya Iqro’ Desa Jemawan siang hingga malam.

Keesokannya, LIPI dan APU bergeser ke desa gemilang lainnya, yaitu Lingkungan Baran dan Mundu Kelurahan Puloharjo, Kecamatan Eromoko, Wonogiri yang disambut langsung oleh Lurah dan pejabat desa lainnya sebagai mitra program APU. LIPI menguatkan study-nya terkait kelembagaan lokal di Saung Ilmu bersama stakeholders program yaitu pendamping masyarakat, pengurus Saung Ilmu, kelompok-kelompok swadaya masyarakat, pejabat kelurahan dan jajarannya serta masyarakat Baran dan Mundu.

Di Baran dan Mundu, LIPI belajar tentang kemandirian masyarakat yang telah terbangun melalui pendampingan dan kuatnya kelembagaan lokal yang dibentuk. Meskipun agama dan kepercayaan masyarakatnya heterogen, namun kerukunan antar umat beragama dan keguyuban terjalin baik dan kuat.  Saat ini, Baran dan Mundu mampu mandiri pangan dari komoditi pertanian dan peternakan yang digarap oleh masyarakat.

Rumah Rabuk Tempat Pengolahan Pupuk
Rumah Rabuk Tempat Pengolahan Pupuk

Masyarakat juga memiliki manajemen penyimpanan hasil pertanian yang baik untuk menjaga ketersediaan pangan yang baik.  Melalui Rumah Rabuk yang dikelola secara swadaya masyarakat, petanipun telah mampu mandiri pupuk, tidak lagi bergantung pupuk kimia dari pemerintah yang masih langka dan mahal. Pupuk organik padat yang diproduksi masyarakat di Rumah Rabuk dengan memanfaatkan kotoran hewan dan limbah pertanian mampu men-suplay kebutuhan pupuk para petani di Baran & Mundu dan sekitarnya. Bahkan menjadi salah satu usaha bersama masyarakat melalui Umbaran (Usaha Masyarakat Mundu Baran).

Dari sudut yang lain, Tim LIPI bersama pejabat desa Ligarmukti menyempatkan diri untuk berkeliling dan melihat lingkungan hijau asri di pekarangan masyarakat yang ditanami dengan beraneka ragam sayuran untuk memenuhi kebutuhan  gizi keluarga.  Dan yang menambah surprise Tim LIPI (karena belum melihat sebelumnya) adalah ketika menyaksikan ibu-ibu warga Baran dan Mundu berbondong-bondong ke Saung Ilmu sambil membawa aneka rupa sayuran dan hasil bumi mereka untuk ditabungkan.

Antrian Ibu-ibu Anggota Tabungan Gemah Ripah
Antrian Ibu-ibu Anggota Tabungan Gemah Ripah

Dengan sabar dalam antrian, satu persatu ibu-ibu memegang buku tabungan menyetorkan 0,5 Kg cabe, 7 ikat kecipir, 10 buah kelapa, 4 Kg jagung kering, dan sayuran lainnya kepada pengelola Tabungan Gemah Ripah dibawah koordinasi Saung Ilmu. Tabungan Gemah Ripah adalah simpanan/tabungan masyarakat desa gemilang dalam bentuk live stock sayuran dan hasil bumi lainnya yang dikelola secara berjamaah yang rupiah hasil penjualannya menjadi tabungan masyarakat penambah penghasilan keluarga.

Foto Bersama di Depan Saung Ilmu Baran Mundu
Foto Bersama di Depan Saung Ilmu Baran Mundu

“Hanya ada di desa gemilang, pengejawantahan dan wujud riil dari hasil studi dan penelitian-penelitian  yang kami lakukan”, ungkap Drs. Dundin Zaenuddin, MA. “Terima kasih kawan-kawan APU, dan mohon izin kami akan sebarkan virus-virus pemberdayaan dan kemandirian masyarakat ini”, pungkasnya.

Sigit Iko Sugondo mewakili tim APU dan Forum Indonesia Gemilang juga mengucapkan terima kasih atas apresiasi ini. “Beginilah adanya desa-desa gemilang dampingan kami, tanpa direka-reka. Semoga banyak ilmu yang didapat dan menginspirasi”, ujar Sigit. “Dan, ini baru 2 desa. Masih ada puluhan desa-desa gemilang lainnya di 10 provinsi yang memiliki keunikan dan inovasi-inovasi pemberdayaan yang lain”, tutup Sigit Iko Sugondo.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box