TENGKIANG, Ketahanan Pangan Sepanjang Masa

Desa Pelakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan ini terletak di ketinggian sekitar 1300m dpl (dari permukaan laut), hawanya yang kelewat sejuk dengan suhu di siang hari antara 15-20oC dan di malam hari mencapai 10oC, sinar matahari yang terbatas karena sekitar lepas dzuhur menjelang ashar sudah terselimuti kabut. Karakter wilayah yang demikian hanya cocok untuk budidaya tanaman kopi, kakao, dan tembakau. Cemara dan pepohonan berdaun jarum sebagai salah satu jenis tanaman kehutanan yang cocok. Sayur mayur (hortikultur) dapat dibudidayakan di lokasi ini namun mengingat ketersediaan tenaga kerja maka masyarakat desa Pelakat dan sekitarnya tidak banyak yang membudidayakannya secara komersil.

Namun sangat mengherankan ketika sepanjang perjalanan hingga sampai di lokasi desa ini terlihat hamparan sawah nan subur terutama memasuki kawasan pemukiman. Jika diamati, tanaman padi di sini tingginya mencapai 120-150cm masa budidayanya pun selama 9 (sembilan) bulan mirip seperti padi gaga di Jawa namun tumbuh di persawahan. Mereka menyebutnya padi Semende. Karena usia budidayanya cukup lama maka sudah barang tentu mereka hanya 1 (satu kali) masa tanam padi dalam setahun.

Saat kami bersama masyarakat melakukan rembug warga sebagai bagian penguatan dan partisipatori masyarakat dalam menyusun rencana pembangunan desa, kami menanyakan mengapa tidak menggunakan varietas padi yang umum ditanam di jawa yang memiliki masa budidaya lebih pendek, sehingga dapat melakukan panen 2 (dua) kali setahun? Dengan senyum yang ramah, Bapak Kohapa, Kepala Desa Pelakat menjelaskan bahwa padi di Jawa adalah jenis tanaman dataran rendah yang jika ditanam disini tumbuh tapi tak bisa berbuah, seperti halnya pohon kelapa.

Jika pun kita dapat menemukan varietas padi Semende ini dengan usia budidaya yang lebih pedek, belum tentu cocok juga untuk dibudidayakan di kawasan ini karena masyarakat Semede darat Ulu umumnya sudah memiliki rotasi budidaya yang sangat teratur antara Padi dan Kopi. Desember-Januari pengolahan sawah dan menanam padi, setelah padi tertanam mereka kembali ke ladang kopi untuk perawatan. Memasuki Juli – Agustus adalah masa panen raya kopi, masayarakat sibuk dengan panen dan pengolahan biji kopi.

Panen raya kopi berakhir, bulan September masyarakat kembali ke sawah untuk panen padi dan mengeringkannya hingga berkahir di bulan Oktober. Bulan November – Desember saatnya mereka membersihkan sawah dan kembali menyiapkan tanam padi. Uniknya, saat pengolahan lahan sawah inilah saatnya mereka mengawinkan kerbau, sehingga saat padi sudah di tanam kerbau-kerbau mereka sudah bunting.

Tengkiang, dalam bahasa jawa dikenal sebagai Lumbung padi. Setiap keluarga memiliki setidaknya satu hektar sawah dan satu tengkiang. Jika Lumbung padi di jawa terletak di sekitar halaman/pekarangan rumah, maka bagi masyarakat Semende darat Ulu ini tengkiang berada di tiap Sawah.

Tengkiang ini akan dipenuhi padi yang masih bertangkai dan akan disimpan hingga menjelang panen padi berikutnya. Bagi setiap keluarga ini adalah cara mereka menyimpan persediaan bahan pangan. Apabila salah ada anggota masyarakat yang mengalami musibah, maka setiap keluarga akan mengeluarkan “pocongan padi” secukupnya hingga terkumpul dan dapat memenuhi/meringankan keluarga yang mengalami musibah tersebut.

Apabila menjelang musim panen ternyata stok padi di dalam tengkiang masih banyak, maka Kepala Adat memperbolehkan masyarakatnya untuk menjual simpanan padi itu dan tengkiang akan kembali penuh saat musim panen tiba. Hasil penjualan padi ini lah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang begitu sederhana.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box