Siri na Pacce dan Mabbulo Sibatang

Mendidik rasa malu akibat tidak menjadi hambaNYA yang bermanfaat – Desa Panakkukang, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan.

Siri na Pacce dan Mabbulo Sibatang adalah petuah yang dipegang teguh oleh masyarakat Makasar pada umumnya, khususnya desa Panakkukang, Gowa Sulawesi Selatan, yang merupakan salah satu desa yang terpilih manjadi bagian program Indonesia Gemilang.

Siri artinya malu. Malu jika tak mampu mengemban amanah, malu jika tak mampu membahagiakan keluarga, malu di hadapan Allah jika tak mampu menjadi mahlukNya yang bermanfaat. Budaya malu ini sungguh menjadi

modal sosial yang sudah mulai langka. Maka Siri atau Malu adalah harga diri. Setiap masyarakat akan menjaga harga dirinya agar tidak menjadi orang yang memalukan.

Pacce artinya perih. Perih jika melihat saudara yang sakit, perih jika ada warga yang mengalami kesulitan. Pacce atau Perih adalah wujud dari Solidaritas, rasa empati terhadap saudaranya yang mengalami kesulitan. Siri na Pacce dimaksudkan agar setiap warga selalu menjunjung tinggi budaya malu sebagai harga diri dan rasa perih sebagai wujud empati dan solidaritas sesama masyarakat.

Mabbulo sibatang, bulo artinya bambu dan mabbulo sibatang artinya menyatukan beberapa batang bambu kedalam sebuah ikatan agar menjadi kuat dan lebih bermanfaat. Seperti layaknya rakit dan jembatan bambu, takkan berarti jika bambu sebatang dijadikan batang titihan maupun perahu penyeberangan. Bukankah bambu yang terikat rapi jika dijadikan jembatan titihan akan menjadi kuat dan lebih aman, begitu pula ketika ikatan bambu yang dibentuk menjadi rakit akan mendatangkan manfaat yang lebih banyak.

Begitulah seharusnya, masyarakat haruslah bisa seperti bambu-bambu yang disatukan, tidak hidup dan bekerja sendiri-sendiri. Bersatu dalam ikatan yang kuat akan lebih banyak manfaat dan tidak mudah dipatahkan. Siri na Pacce dan Mabbulo Sibatang, hidup menjunjung tinggi rasa malu sebagai harga diri, perih sebagai wujud solidaritas, dan bersatu agar menjadi sesuatu.

Suatu potensi sosial yang kini sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Masih banyak kearifan masyarakat pedesaan yang

mungkin sudah sangat langka kita temui bahkan mungkin sudah menjadi bagian dari cerita para orang tua. Namun jika kita mau menggali masih banyak kita temui kearifan-kearifan tersebut yang menjadi modal sosial keberdayaan bangsa ini. Menggali ilmu tidaklah selalu di dalam sekolah formal maupun perguruan tinggi, masih sangat banyak sumber yang bisa dijadikan guru dan sumber ilmu, termasuk belajar dari wong deso yang sesungguhnya bisa hidup baik dengan caranya sendiri.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box