BELAJAR DARI WONG DESO

Bagi sebagian banyak orang berpendapat bahwa kemiskinan disebabkan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan keahlian seseorang sehingga ia tak mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya. Namun bagi sebagian orang yang lain berpendapat bahwa rendahnya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh seseorang adalah akibat dari kemiskinan sehingga seseorang itu tak mampu menempuh pendidikan yang memadai.

Melihat kedua pendapat tersebut di atas maka sejatinya dapat disimpulkan bahwa seseorang yang tidak mampu mendapat akses pengetahuan yang memadai maka dirinya akan terancam oleh kemiskinan karena dengan keterbatasan pengetahuan itu ia tak dapat mengelola potensinya secara maksimal. Dengan demikian keterbatasan akses ini sesungguhnya dapat dialami oleh siapa saja.

Penduduk kota yang dianggap lebih beruntung karena akses ekonomi lebih mudah ketimbang orang desa pun bisa menjadi miskin ketika akses pengetahuan baginya terkendala karena berbagai hal seperti biaya pendidikan yang mahal, alat praktikum yang tidak memadai dan lain sebagainya, sehingga bisa jadi anak kota kenal beras akan tetapi tidak mengenal pohon dan cara bercocoktanamnya, suka durian tetapi tidak tahu darimana durian itu berasal hingga akhirnya pasokan durian dan beras pun dikuasai Negara asing. Maka hilanglah kesempatan emas itu dan anak kota pun akhirnya hanya menjadi konsumen dan penganggum durian asing.

Ironis. Orang kota sesaat panik, berteriak dan menjadi stress ketika terjadi lonjakan harga cabai, naiknya TDL (Tarif Dasar Listrik), subsidi BBM dicabut, kelangkaan gas elpiji dan sebagainya. Di saat yang bersamaan pula, orang desa sudah sangat terbiasa dengan kelangkaan BBM, gas elpiji, bahkan membelinya dengan harga yang lebih mahal dari orang kota dan akhirnya dengan perjuanganya sendiri mereka tetap mampu menghidupi diri dan keluarganya meskipun terkadang hasilnya jauh panggang daripada api.

Untuk itu kita perlu belajar bagaimana orang desa itu mengisi kehidupannya, mengatur dan mencukupi kebutuhannya dengan segala kearifan dan keterbatasan yang tidak dihadapi oleh orang kota melalui tulisan dua bagian tulisan yang merupakan catatan perjalanan tim “INDONESIA GEMILANG” Al-Azhar Peduli Ummat dari desa-desa di beberapa wilayah negeri ini. Melalui nukilan pengalaman kami saat berkesempatan menengok wilayah desa desa yang ternyata memiliki kekayaan alam dan local wisdom yang luar biasa ini, sesungguhnya kami mengajak kita semua agar bisa melihat pendidikan dari sisi yang berbeda.

Tak selamanya orang desa dipandang sebagai orang yang tertinggal, terbelakang, bodoh, dan miskin. Kondisi geografis, sosial dan kultural yang melingkupi kehidupan keluarga di mana keluarga itu tinggal, sangat berpengaruh terhadap upaya untuk survive dan memenuhi kesejahteraan keluarga. Cara mereka mendidik dan memperoleh pendidikan bagi keluarganyapun banyak dipengaruhi oleh sifat kutural mereka. Dan merupakan sebuah keindahan bila kita dapat mengambil sesuatu dari hasil olah budi dan budaya mereka untuk kita aplikasikan sisi positifnya bagi pengembangan knowledge kita dan tentunya akan menjadi sesuatu yang amat berharga apabila kita mampu menginovasinya menjadi hal yang lebih baik lagi.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box