TENGKIANG TAK BERKUNCI MALING PUN DIDIAMKAN

Mendidik masyarakat mempunyai rasa malu yang
berkepanjangan akibat perbuatan buruk – Desa Semende,
Kab. Muara Enim, Sumatera Selatan.

 

Tengkiang (rumah tempat menyimpan padi hasil panen) yang letaknya di sawah, bahkan ada yang jauh dari rumah rupanya tak terkunci. Tak terlihat gembok besar yang terkait di pintu-pintu tengkiang meski tengkiang itu penuh berisi potongan padi kering yang diikat menjadi satu.

Untuk menjawab rasa penasaran kami, kami pun bertanya kepada Kepala Desa mengapa demikian, Beliau menjawabnya bahwa masyarakat Desa Semende sudah memiliki sistem pengamanan yang cukup efektif. Setiap kepala keluarga akan menjadi anggota Perhimpunan Keamanan Antar Desa. Apabila terjadi pencurian di suatu wilayah, kepala desa akan mengumukan dan berkoordiansi dengan kepala desa tetangga hingga maka kelompok keamanan masyarakat ini akan menutup jalur keluar masuk dan menyisir jalur yang patut dicurigai.

Apabila sang pencuri ini tertangkap tidaklah berlaku penghakiman sepihak, tetapi akan dibawa kepada Kepala Adat desa setempat. Jika terbukti bersalah maka identitas pencuri akan diumumkan di masjid dan akan disebar luaskan ke seluruh warga Semende (sekitar 3 kecamatan), pencuri akan diganjar hukuman “didiamkan oleh seluruh warga selama 3 (tiga) bulan berturut-turut. Jika masa didiamkan sudah terlewati maka pencuri akan kembali dihadapkan kepada kepala adat untuk mengakui kesalahan dan bertobat atas kelakuannya serta membayar denda perkara sebesar 1 kaleng gabah (sekitar 20kg) dan 2 (dua) ekor ayam”.

Hukuman dalam bentuk disebar luaskan sebagai pelaku pencurian dan didiamkan oleh masyarakat selama 3 bulan ini rupanya mujarab karena akan dikenang sepanjang masa oleh semua warga.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box